42
0
3

Sore itu aku diantar Setelah lumayan lama Kulihat jam tanganku Tak lama kemudian te

BUKA BERSAMA DENGAN SECANGKIR KOPI

0 Komentar

Rilis pada, 6 bulan yang lalu


Gratis

1 Chapter


1


Sore itu aku diantar oleh ayahku menuju terminal Jombang untuk melakukan perjalanan menuju Solo, menghadiri acara pernikahan temanku. Memang terkesan lucu di bulan ramadhan dia mengadakan acara pernikahan. Tidak seperti adat di kampungku yang nyaris tidak pernah ada acara pernikahan saat bulan puasa. Setelah sampai terminal ayahku memberiku satu nasi bungkus dan sebotol minuman yang dibeli nya di kantin terminal. Dia berpesan kepadaku untuk berbuka saat awal waktu agar kuat melanjutkan perjalanan . Aku berterima kasih sambil mencium tanganya dan meminta didoakan agar selamat sampai tujuan. Memang saat itu kuputuskan untuk tetap berpuasa. Walaupun akan melakukan perjalanan jauh aku masih gigih mempertahankan ibadah wajib ini. Nanggung sekali, hanya kurang dua jam saja sudah magrib.

Setelah lumayan lama menunggu, akhirnya aku mendapatkan bis yang ku cari. Segera lah aku masuk kedalam dan mencari tempat kesukaanku, kursi nomor dua dari depan. Hanya beberapa menit bis sudah terisi penuh dan berjalan menuju kota tujuan. Disampingku duduk seorang pria keturunan cina seumuranku. Setelah mengobrol cukup lama ternyata dia tak seagama denganku namun itu tak mempengaruhi obrolanku. Tiba-tiba dia menawarkan makanan ringan kepadaku. Aku tersenyum sambil menolak dengan halus karena sedang berpuasa. Dia bisa memahami alasanku dengan anggukan kecil. Kurasa dia penasaran dengan ibadah puasa ramadhan, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan padaku mengenai ibadah puasa.

Kulihat jam tanganku, waktu magrib kurang dari 10 menit. Saat itu bis sedang mengisi angin tambahan untuk ban. Tiba-tiba teman baruku mengajak membeli makanan di warung sebelah bengkel bis berhenti. Untuk berbuka puasamu, katanya dengan berharap. Namun kujawab saja aku sudah diberi bekal ayahku saat diterminal tadi. Dia pergi meninggalkan tempat duduknya dengan sedikit terburu-buru. Tak begitu lama kulihat dia membawa secangkir kopi panas menuju tempat duduk disebelahku tadi. Sambil tersenyum dia menawarkan kopinya padaku dengan membisikkan "tenang saja gak bakalan habis, sebentar lagi sudah boleh ngopi kan ", Aku mengangguk membalas senyumanya. Senang sekali rasanya bisa berbagi ilmu dengan sesama, apalagi dengan orang yang bebeda agama. Indahnya perbedaan memang mengagumkan.

Tak lama kemudian terdengar sayup-sayup suara adzan berkumandang. Setelah kulihat jam tanganku ternyata memang sudah waktunya magrib. Setelah berdoa lalu kuminum air mineral dari ayah tadi. Alhamdulilah akhirnya basah juga tenggorokanku satelah cukup lama kering. Kuambil nasi bungkus tadi sambil menawarkan makanan pada temanku, mari makan. Silahkan saja, pasti kamu sudah sangat lapar karena dari pagi tidak makan. Setelah makan jangan lupa ngopi, dia mengankat sedikir cangkir plastik kopinya. Aku tersenyum. Setelah nasi bungkus terbuka, ternyata isinya nasi kuning dengan lauk sepotong kepala ayam beserta lehernya yg lumayan panjang. Wah ini favoritku, ucapku dalam hati. Langsung saja kuambil kepala ayamnya. Saat akan menggigit lehernya tak sengaja kulihat salah satu dari urat nadi atau jalan makan ayam ini masih utuh. Selelah melihat dan kuteliti, ternyata benar ada salah satu entah urat nadi atau jalan makanan ayam ini belum terpotong. Berarti ayam ini haram, tidak sempurna penyembelihanya. Kuurungkan niatku untuk makan nasi bungkus ini, kumasukkan lagi kedalam kantung kresek seperti semula. Loh mengapa tak jadi dimakan, dia heran. Menurut agama kami, ayam ini tak boleh kami makan. Setelah kujelaskan tentang cara menyembelih hewan secara islami dia hanya mannggut-manggut saja, mungkin sedikit bingung. Tapi jika kamu mau ini boleh kamu makan, sambil kusodorkan nasi bungkus itu. Ini kusimpan saja dahulu. Nanti kalau lapar pasti kumakan. Sekarang kita ngopi saja dahulu, dia memberiku secangkir kopinya tadi. Kuterima kopinya lalu menyeruputnya dengan semangat, Mantab sekali. Walaupun tak jadi berbuka dengan sebungkus nasi, berbuka dengan secangkir kopi sangatlah kusyukuri. Apalagi bersama teman baru yang bisa saling mengerti. Temanku memang tak berpuasa tapi nyatanya aku berbuka dengan secangkir kopi bersama dia. 

    Masuk untuk melihat komentar...