9
0
1

Kemarin siang saya i  Apakah masih l  Aku hanya meng  Wajah temanmu  Aku tertunduk.  Tak lama kemud  Langsung saja Temanya baru saja be Iya pak, terima kasi Aku dan saudaraku du  Adzan ashar te  “Ketahuilah Tiba-tiba saudaraku  Dia melanjutka

BUAH MANIS ITU BERUPA KESABARAN

0 Komentar

Rilis pada, 5 bulan yang lalu


Gratis

1 Chapter


1


Kemarin siang saya ingin pulang ke rumah naik bus. Rencana awal saya dengan teman saya dan saudara saya ingin berangkat bersama. Setelah saya sudah selesai berkemas langsung saja menghubungi temanku tadi bahwa persiapan saya sudah selesai. Ternyata dia juga sudah selesai berkemas. Lalu saya menghubungi saudara saya bahwa kami sudah siap. Kami membawa semua barang bawaan sendiri-sendiri menuju depan gerbang. Disana ada temanku yang sudah siap mengantar menuju halte terdekat. Kusuruh saja temanku diantar duluan karena barang bawaanya yang banyak. Dan akhirnya dia berangkat menuju halte bus terlebih dahulu. Saya tetap didepan gerbar sambil menunggu saudara saya. Setelah kurang lebih 10 menit temanku yang berangkat tadi memberitahuku bahwa dia sudah sampai di halte. Kemudian saya jawab bahwa saya masih menunggu saudaraku yang entah kenapa dia begitu lama mempersiapkan barang bawaannya. Dengan sedikit terburu-buru ku telfon dia. Ternyata dia sedang berada di kantor. Mencarikan ijazah salah seorang murid yang baru saja tiba sore ini. Saudaraku adalah salah seorang staf guru di pondok ku. Dia menyuruhku agar sabar menunggu. Karena memang saat itu sudah liburan dan tidak ada seorang pun pengurus atau guru yang berada di kantor. Dengan sedikit kecewa terpaksa saya menunggunya. Sampai pada akhirnya temanku yang mengantar tadi tiba di tempat menunggu saudaraku. Dia bertanya kepadaku

 Apakah masih lama ?

 Aku hanya menggelengkan kepalaku. Dia tersenyum kecil.

 Wajah temanmu sampai kecut menunggumu di halte, lanjutnya dengan wajah serius.

 Aku tertunduk. Antara kesal menunggu dan ingin cepat menyusul temanku ke halte. Tapi saudaraku juga belum kelihatan keluar dari kamarnya.

 Tak lama kemudian dia terlihat diantar temanya dengan membawa semua barang bawaanya. Maaf lama menunggu tadi ada anak ingin mengambil ijazah. Katanya dengan sopan.

 Langsung saja saya naik motor temanku yang akan mengantarkan dan bergegas menuju halte. Ternyata sampai disana temanku yang berangkat ke halte duluan sudah tidak ada.

Temanya baru saja berangkat mas, saya di pesani jika ada 2 anak bersarung nanti disuruh memberitahu dia sudah berangkat kata tukang ojek disamping halte.

Iya pak, terima kasih. Jawabku singkat dengan menganggukan kepala.

Aku dan saudaraku duduk di halte. Setelah menurunkan masing-masing dari kami, teman-teman yang mengantar kami langsung kembali ke pondok lagi.

 Adzan ashar terdengar dari mushola tak jauh dari halte tempat kami menunggu. Setelah berdiskusi sebentar kami putuskan untuk pergi ke mushola itu untuk melakukan sholat ashar. Kira-kira 15 menit kami kembali lagi ke halte untuk menunggu bus datang. Begitu sampai halte kami diberitahu tukang ojek bahwa bis yang akan kami naiki baru saja lewat. Wajahku langsung lesu mendengarkan perkataan tukang ojek itu.

 “Ketahuilah bahwa kaitan antara kesabaran dan keimanan adalah ibarat kepala dan tubuh. Jika kepala manusia sudah tidak ada, secara langsung tubuhnya juga tidak akan berfungsi. Demikian pula dengan kesabaran. Apabila kesabaran sudah hilang, keimanan pun akan hilang.” itu perkataan sahabat nabi Ali bin Abi Tholib.

Tiba-tiba saudaraku berkata seperti itu.

 Dia melanjutkan, tenang saja masih ada bis lagi yang akan lewat sini. Kita tidak salah mendahulukan sholat ashar tadi daripada kita sudah mendapatkan bis tapi setelah turun kita belum mengerjakan sholat ashar. Padahal perjalanan kita sampai rumah kurang lebih 3 jam. Bersabar bukan hanya menunggu apa saja pemberian tuhan, itu pemahaman yang sempit. Bersabar akan masalah ialah tetap menghadapinya dengan besar hati tanpa sedikit pun rasa ragu atas keputusan tuhan. Dia berhenti berkata, lalu berdiri membangunkanku. Kutegakkan kepalaku, kulihat bis yang kami nanti sudah terlihat mendekat. Sambil sedikit tersenyum ku ucapkan "terimakasih saudaraku, kau sudah menyelamatkan kesabaranku agar tak terpisah dengan keimananku". Kami pun bergegas masuk bis yang berada didepan kami. Ini adalah cerita ramadhan terakhirku di pondok pesantren yang membesarkanku.

    Masuk untuk melihat komentar...