1758
8
41

Sejak saya bermain d Dulu sekali saya men Itu masa-masa yang m Dan - jujur saja - b Dari Facebook kemudi Jadi ceritanya, seja Masa-masa indah berl Semakin lama, media Perilaku saya pun be Ada yang menarik bag Akhirnya sesudah mas Yaitu agama.. Entah kenapa agama s Ndilalah, yang saya Debat ini menarik bu Ayat dan hadis kelua Debat yang tidak per Saya jadi ingat keti Waktu itu sedang dem Ada sekitar 7-9 komp Kami waktu itu meyak Kami lalu mencoba me "Woii, mana Cina dis Sesudah beberapa bul Apa yang terjadi sun Salah satu teori kam Nah, perilaku yang s Bosan dengan debat I Disini lebih gila la Banyak hal yang tida Saya memposisikan di Si wahabier ini lucu Begitulah yang terja Sesudah selesai masa Inilah perang yang s Seruput kopi dulu ah

PERANG NARASI DI MEDIA SOSIAL

8 Komentar

Rilis pada, 5 bulan yang lalu


Gratis

2 Chapter


MEDIA SOSIAL


Sejak saya bermain di Facebook tahun 2009 lalu, media sosial ini mengalami banyak perubahan fungsi.

Dulu sekali saya mengenal Facebook sebagai tempat bertemu teman-teman masa kecil, dimana orang tua saya tidak bisa melakukan itu. Kita semua harus berterima kasih pada mesin temuan Mark Zuckerberg ini, karena membuka kembali memori lama saat melihat wajah-wajah yang sangat kita kenal dulu waktu TK sampai Kuliah. Bahkan tetangga dan teman lama waktu rumah belum pindah.

Itu masa-masa yang menggembirakan dan kemudian dilanjutkan dengan reuni dimana-mana. Bayangkan, bertemu orang-orang yang biasanya hanya ada dalam benak kita, "Bagaimana wajah dia sekarang ya ?" Atau "Dia sekarang dimana ya ?"

Dan - jujur saja - banyak juga yang mengalami Cinta Lama Bersemi Kembali ketika ternyata mantan yang dulu sangat menarik, ketika bertemu menjadi lebih menarik. Usia bagi sebagian orang ternyata bukan musuh, tetapi malah menjadi sahabat yang mengeluarkan cahaya ketika seorang teman berkata, "Gile lu makin keren aja meski dah umur sekian.."

Dari Facebook kemudian berlanjut membuat grup bersama yang waktu itu didominasi oleh Blackberry. Fasilitas Blackberry Messenger atau lebih kita kenal dengan nama BBM menjadi lebih menarik dengan fasilitas "Ping !" sebuah panggilan yang kita tunggu-tunggu terutama ketika kita naksir dengan teman yang kita taksir dahulu. 

Jadi ceritanya, sejak dulu emang kerjaannya tukang taksir. Jangan-jangan udah tua juga kerjaannya di Bank jadi tukang taksir rumah yang diagunkan oleh nasabah atau kerja di pegadaian naksir emas. Untung saya enggak..

Masa-masa indah berlalu seiring waktu dan ini berlaku bukan buat kita saja, tapi juga seluruh dunia. Internet dan media sosial membawa dampak begitu luas bagi kita karena terhubung tanpa jarak dan batas. 

Semakin lama, media sosial merubah perilaku kita karena begitu beragamnya informasi-informasi yang ada di dalamnya.

Perilaku saya pun berubah..

Ada yang menarik bagi saya di media sosial seperti Facebook, dimana saya bisa menuntaskan hobby menulis tanpa harus repot membuat blog dan kesepian tanpa teman. Facebook membuat interaksi semakin menarik karena para pembaca sudah tersedia dan mereka "hidup" karena kita membaca komentar mereka. 

Akhirnya sesudah masa reuni selesai yang tampak membosankan karena orangnya itu-itu saja dan pembicaraan tidak beranjak ke hal yang lebih kekinian karena selalu bicara tentang masa lalu yang tidak mungkin diulang, saya pun mulai mengamati hal-hal yang dulu menarik perhatian saya.

Yaitu agama..

Entah kenapa agama selalu menarik perhatian saya terutama ketika berada dalam persimpangan menuju pencarian jati diri, "Siapa saya sebenarnya ini.."

Ndilalah, yang saya tuju bukannya situs agama tetapi melihat perdebatan seru di diskusi dua agama besar yaitu "Islam dan Kristen".

Debat ini menarik buat saya karena mengungkapkan rahasia apa yang selama ini ada di pikiran orang-orang dalam memahami agamanya sendiri dan memandang agama lain. Dan itu jelas bukan diskusi tetapi menjadi ajang caci mencaci diantara orang-orang yang merasa dirinya paling berhak atas surga dibanding manusia lainnya.

Ayat dan hadis keluar dibarengi dengan hujatan kepada lawan diskusi dari kedua belah sisi. Pada masa ini juga masa keluarnya meme. Kata "meme" ini pertama kali disebutkan oleh penulis Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene. Meme awalnya adalah gagasan yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam bentuk budaya. Dan dalam perkembangannya, meme menjadi bentuk visual yang bisa berisi humor sampai sindiran.

Debat yang tidak pernah habis itu membuat mata saya terbuka, bahwa sebenarnya banyak pikiran liar yang tersembunyi dalam benak banyak orang dan menjadi telanjang ketika itu keluar ke publik dalam bentuk tulisan. Debat di Facebook itu memperlihatkan betapa masih purbanya kita ketika pikiran tidak bisa lagi dibungkus oleh aksesoris pakaian. 

Saya jadi ingat ketika sedang melakukan eksperimen di sebuah rumah di Jakarta bersama teman-teman aktivis pasca peristiwa 1998.

Waktu itu sedang demam Yahoo Messenger dengan "room"nya, dimana di masing-masing ruang yang disediakan orang bisa bebas berinteraksi tanpa harus mengenal wajah dan nama asli. Dulu untuk berkenalan kita wajib bertanya, "ASL, please.." yang berarti Age, Sex dan Location untuk mengenal lawan bicara kita bukan sebagai pribadi apa adanya.

Ada sekitar 7-9 komputer waktu itu yang mengelilingi satu meja tergabung dalam jaringan Local Area Network, dimana kita bisa menggunakan internet secara bersamaan.

Kami waktu itu meyakini bahwa kata rasis seperti "Cina" menjadi momok bagi banyak orang yang kemudian mencapai puncaknya di Mei 1998 dimana banyak warga keturunan yang menjadi korban. Dan kami tidak ingin orde baru memakai isu SARA sebagai senjata dengan mengharamkan pengucapan itu tetapi menggunakannya sebagai belati untuk menikam di kesunyian.

Kami lalu mencoba mendobrak tradisi itu dengan membuat dua kelompok, kelompok satu anti Cina dan kelompok kedua adalah pro Cina. Kami lalu masuk ke room-room Yahoo Messenger dimana banyak orang "mojok" - istilah kami untuk orang-orang yang sedang pedekate dan mulai membuat kerusuhan.

"Woii, mana Cina disini ?" Begitu biasanya kami mengawali. Dan mulailah perdebatan seru yang mempengaruhi semua room disana. Beberapa bulan kami membangun situasi itu dan tampak banyak orang yang tidak kami kenal malah saling "perang" argumen sendiri. Bahasa binatang adalah bahasa yang lajim disini..

Sesudah beberapa bulan kami merusuhi Yahoo Messenger, kami kemudian sibuk dengan kegiatan masing-masing. Beberapa bulan ke depan kami bertemu di chat room yang sama dan melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan dulu..

Apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Teori kami berhasil. Ketika salah seorang dari kami memprovokasi dengan mengeluarkan kata Cina, dan disambung dengan perdebatan dari teman kami juga, room ternyata tidak berpengaruh. Seolah-olah mereka bosan dengan situasi perdebatan dan kata "Cina" menjadi biasa saja, seperti kata Batak, Sunda, Jawa dan suku maupun ras lainnya..

Salah satu teori kami adalah melawan api dengan api, fight fire with fire. Jika melawan api tidak cukup dengan menyiramkan air, ledakkan saja sekalian biar sampai pada titik jenuh dan akhirnya menjadi biasa saja. Api tidak padam, tetapi jadi lebih mudah dikendalikan..

Nah, perilaku yang sama terjadi di debat Islam versus Kristen. Saya hanya menjadi pengamat saja disini karena tidak cukup ilmunya. Mengasyikkan sekaligus belajar memahami banyak hal..

Bosan dengan debat Islam Kristen, saya masuk ke debat Sunni dan Syiah, dua mazhab besar dalam Islam. 

Disini lebih gila lagi ternyata..

Banyak hal yang tidak pernah saya tahu, terutama ternyata Islam itu ada banyak aliran dan salah satunya adalah Syiah. Saya belajar banyak tentang agama saya sendiri disana dan berlangsung selama lebih dari setahun. Bahkan sering saya ikut debat hanya sekedar untuk memancing ilmu lebih dalam lagi tentanf agama..

Saya memposisikan diri sebagai "Pembela Syiah" hanya untuk tahu kenapa mazhab ini selalu dicaci-maki. Dari perdebatan itu saya baru tahu bahwa ada banyak aliran di mazhab Sunni - Indonesia mayoritas Sunni - dan salah satunya adalah wahabi, paham yang sangat radikal dalam Islam.

Si wahabier ini lucu-lucu, dalam artian jawaban mereka sangat tidak masuk akal dan cenderung keras, penuh amarah. Mereka menganggap semua orang masuk neraka, kecuali kelompok mereka saja. Saya juga baru tahu bahwa ternyata mereka mengharamkan akal, karena semua harus kembali ke Alquran dan Sunnah. Argumen yang bikin saya ketawa ngakak, "Bagaimana bisa memahami Alquran dan Sunnah tanpa akal ?" 

Begitulah yang terjadi selama beberapa waktu lamanya sehingga akhirnya saya biaa mengambil banyak kesimpulan dari semua perdebatan ini. Menariknya, selama perdebatan itu saya tanpa sadar mengasah gaya tulisan dan cara berfikir saya sendiri..

Sesudah selesai masa perdebatan dan pencarian, pada tahun 2011, meledaklah perang Suriah..

Inilah perang yang semakin membuka mata saya tentang betapa pentingnya media sosial sebagai "alat perang" dan propaganda..

baboo

Seruput kopi dulu ah...

    Masuk untuk melihat komentar...