Aditia Nugraha
Wineu Limbong

Jakarta, Indonesia


Awal Berjumpa

Namaku Wikeu usiaku 30 tahun, aku tinggal di Purwakarta, aku wanita yang jarang banget kumpul bareng teman², dibilang tomboy gak juga, feminim juga gak, biasa aja hanya kebanyakan teman dekat, sahabat semuanya cowok. Mereka melindungi aku layaknya Adik sendiri. Perjalanan cintaku dengan pria yang sekarang menjadi suamiku, cukup panjang dan penuh dengan problem, haru, tangisan dan penderitaan.

Kita mulai saja yah...

Pria itu yang sekarang jadi suamiku bernama Erik umurnya 4 tahun lebih dewasa dari aku. Kisahku dimulai ketika aku kelas 3 SMP akhir, pada saat itu aku aktif dalam program Desa yaitu karang taruna di kampungku, kala itu menjelang peringatan 17 Agustus karang taruna sibuk dengan berbagai program acara tersebut semua pemuda pemudi dikerahkan untuk merayakan HUT Indonesia. Malam itu aku dan teman² sedang mendiskusikan acara untuk Agustusan, kebetulan aku jadi panitia. Saat itu sibuk sekali semua berbagi tugas dan aku pulang untuk mengambil buku karang taruna kebetulan tertinggal di rumahku, aku balik lagi ke tempat ketua karang taruna. Saat aku sedang jalan tiba² temanku Eri menghampiriku... "Wikeu Wikeu!!! ada salam tuh.." Siapa?" Jawabku. "Dari Erik Wik.." Aku cuma diam kebetulan Erik dan aku satu kampung hanya beda RT saja, setahuku Erik terkenal dengan mempermainkan wanita layaknya permen karet dia hanya ambil manisnya aja setelah itu di buang.

Besok harinya.. Ketika aku sedang kumpul² dengan temen² cowokku, aku melihat dari kejauhan Erik sedang melihat gerak gerikku, temanku Eri menghampiri aku lagi. "Wikeu dapet salam lagi tuh dari Erik..."

"Hmm.. Belum juga aku jawab. Temen aku bernama Dudi, dia mendengar ucapan Eri lantas Dudi berkata. "Awas kamu kalo sama Erik!" Aku terheran. "Emang kenapa Dud?"

"Jangan entar kamu nangis." Jelas Dudi.

"Kok nangis...???". Kataku.

Dudi. "Pokoknya itu si Erik cuma mau manisnya cewe doang... Kamu mau di sakitin dia?" Temanku yang satu lagi bernama Eden lalu ikut berbicara dan bilang padaku.

"Bukannya si Erik itu pacaran sama ponakan Bidan..." Aku semakin bingung.. Kebetulan rumah Bidan bersebrangan dengan rumahku. Tak mau panjang lebar dan tak mau dengar mereka yang terus menceramahiku, aku memilih untuk pulang saja, setiba di rumah sambil minum segelas teh manis hangat sekilas aku terbayang ucapan teman²ku. "Kenapa yah kok si Erik di mata temen²ku nilainya negatif banget sih, apa iya dia itu begitu?" Dalam hatiku. Tak mau memikirkan masalah itu, lebih baik aku tidur karena besok sekolah aku harus mempersiapkan alat² MOS (Masa Orientasi Siswa) di sekolah baruku.

Hari demi hari MOS berjalan dengan lancar, karena hari terakhir MOS sekolahku bubar jam 6 sore karena jarak antara sekolah dan rumahku agak jauh kurang lebih 1 jam perjalanan sampe rumah. Sesampainya dirumah setelah beres mandi dan makan, tiba² ada suara panggilan di depan rumah, kedengerannya gak asing banget buat aku suaranya, ga lama aku keluar dari kamar dan membukakan pintu, aku merasa kaget karena yang datang itu Erik.

"Hai..." Erik berkata dengan senyum.

"Eh Erik... Iya ada apa?"

"Main kesini bolehkan Wik...?"

"Boleh, ayo masuk." Kataku. "Disini aja deh malu kalau di dalem ada mamah kamu." Jawab Erik.

"Oh ya udah. Hmm... Ada apa ya?" Tanyaku.

Erik. "Ada hal yang mau aku obrolin tapi kalau bisa gak disini, kita ngobrolnya di luar aja, Gimana?"

"Emang ada apa? penting banget yah...?"

Erik. "Iya penting banget."

"Duh, gumana yah..." Kataku sedikit merasa bingung.

"Kenapa, bisa gak Wik...?"

"Ya udah tapi gak boleh lewat jam 9 yah... Takut bapak marah." Jawabku.

Erik. "Iya gak akan lama kok."

Aku dan dia pergi jalan kaki, aku dibawa ke warung di depan sekolahan SMA jaraknya gak jauh dari rumah, kita berdua diam dan duduk sambil meminum teh botol. Tak lama Erik bilang, "Hmm... Kok diem aja, kenapa?"

"Gak apa-apa." Jawabku. Erik bilang, "Aku boleh tanya gak?" Aku bilang dengan kata perlahan "Boleh... Emang tanya apa?"

Erik. "Boleh gak aku lamar kerja?"

"Hah... Kerja?" Jawabku dengan aneh.

"Iya kerja dirumahmu beres² gitu." Jawab Erik tertawa.

"Haduh... Iya boleh aja." Kataku sambil kebingungan. "Ih serius Wik..!"

"Iya serius, emang aku keliatan bohong?" Jawabku sambil tersenyum. Sahut Erik berkata, "Berarti diterima dong.."

"Iya iya..." Jawabku. Pada saat itu aku belum bisa membedakan mana rayuan dan gombal, karena hampir sama² persis. Aku juga gak tau itu pertanyaan serius atau candaan, aku gak ngerti dengan semua ucapannya...


Penasaran cerita selanjutnya? Beli versi full buku ini sekarang dan lanjutkan membaca.