Aditia Nugraha
Denny Siregar

Jakarta, Indonesia


PERANG NARASI DI MEDIA SOSIAL

Sejak saya bermain di Facebook tahun 2009 lalu, media sosial ini mengalami banyak perubahan fungsi.

Dulu sekali saya mengenal Facebook sebagai tempat bertemu teman-teman masa kecil, dimana orang tua saya tidak bisa melakukan itu. Kita semua harus berterima kasih pada mesin temuan Mark Zuckerberg ini, karena membuka kembali memori lama saat melihat wajah-wajah yang sangat kita kenal dulu waktu TK sampai Kuliah. Bahkan tetangga dan teman lama waktu rumah belum pindah.

Itu masa-masa yang menggembirakan dan kemudian dilanjutkan dengan reuni dimana-mana. Bayangkan, bertemu orang-orang yang biasanya hanya ada dalam benak kita, "Bagaimana wajah dia sekarang ya ?" Atau "Dia sekarang dimana ya ?"

Dan - jujur saja - banyak juga yang mengalami Cinta Lama Bersemi Kembali ketika ternyata mantan yang dulu sangat menarik, ketika bertemu menjadi lebih menarik. Usia bagi sebagian orang ternyata bukan musuh, tetapi malah menjadi sahabat yang mengeluarkan cahaya ketika seorang teman berkata, "Gile lu makin keren aja meski dah umur sekian.."

Dari Facebook kemudian berlanjut membuat grup bersama yang waktu itu didominasi oleh Blackberry. Fasilitas Blackberry Messenger atau lebih kita kenal dengan nama BBM menjadi lebih menarik dengan fasilitas "Ping !" sebuah panggilan yang kita tunggu-tunggu terutama ketika kita naksir dengan teman yang kita taksir dahulu. 

Jadi ceritanya, sejak dulu emang kerjaannya tukang taksir. Jangan-jangan udah tua juga kerjaannya di Bank jadi tukang taksir rumah yang diagunkan oleh nasabah atau kerja di pegadaian naksir emas. Untung saya enggak..

Masa-masa indah berlalu seiring waktu dan ini berlaku bukan buat kita saja, tapi juga seluruh dunia. Internet dan media sosial membawa dampak begitu luas bagi kita karena terhubung tanpa jarak dan batas. 

Semakin lama, media sosial merubah perilaku kita karena begitu beragamnya informasi-informasi yang ada di dalamnya.

Perilaku saya pun berubah..

Ada yang menarik bagi saya di media sosial seperti Facebook, dimana saya bisa menuntaskan hobby menulis tanpa harus repot membuat blog dan kesepian tanpa teman. Facebook membuat interaksi semakin menarik karena para pembaca sudah tersedia dan mereka "hidup" karena kita membaca komentar mereka. 

Akhirnya sesudah masa reuni selesai yang tampak membosankan karena orangnya itu-itu saja dan pembicaraan tidak beranjak ke hal yang lebih kekinian karena selalu bicara tentang masa lalu yang tidak mungkin diulang, saya pun mulai mengamati hal-hal yang dulu menarik perhatian saya.

Yaitu agama....


Silakan masuk untuk melanjutkan membaca