Aditia Nugraha
PapeeRyu

Jakarta, Indonesia


Sebungkus nasi untuk Bapak

Entah mengapa aku dilahirkan di tempat ini...

Entah mengapa aku dilahirkan di keluarga ini...

Kepada siapa aku harus mengadu atas penderitaan ini...

Biarlah kutelan semuanya sendiri...

Hari ini matahari terbit tidak seperti biasanya. Tidak terlalu terang, tidak juga hangat. Karena awan tebal setia menghiasi sisi-sisi cahaya itu, sehingga tertahan pesona indahnya seperti pagi-pagi sebelumnya.

Mendung nya hari ini, mengingatkanku bahwa aku tak beda dari nya, hatiku galau, tak kunjung usai. "Darimana aku harus mendapat uang ya...?", gumamku dalam hati. Ibu belum mendapat uang dari majikan nya. Sedangkan bapak, huftt...... Bapak seorang buruh bangunan kasar, yang penghasilan nya tidak menentu. Aku tidak bisa lagi menyusahkan bapak demi keinginanku untuk mengganti sepatu dingin ini. Aku bertekad untuk mencari uang sendiri mulai hari ini.

Aku bersiap untuk pergi kesekolah. Jaraknya tidak kurang dari 10 kilometer. Aku biasa berjalan kaki sambil bernyanyi menuju kesana, karena aku bahagia bisa bersekolah, kuingin merubah nasib, tidak seperti bapak atau ibuku yang putus sekolah. Aku ingin pintar agar jadi orang besar yang berguna untuk banyak orang.

Kusiapkan semua peralatanku, tidak lupa aku memakai sepatu dingin ini, sejuk sekali rasanya. Terlihat gerakan jari kakiku dari dalam sepatu, Kulihat kuku jempolku mulai panjang. "Hmm... Nanti saja pulang sekolah baru kupotong", pikirku dalam hati...


Silakan masuk untuk melanjutkan membaca